Judul Buku : Kota Pelabuhan Kolaka di Teluk Bone, 1906 – 1942 (Kajian Sejarah Sosial-Ekonomi)
Penulis: Basrin Melamba, S.Pd, M.A (Dosen Tetap Ilmu Sejarah di Program Studi Sejarah FKIP Unhalu Kendari)
Kata Pengantar: Adrian B. Lapian (Pakar Sejarah Maritim)
Penerbit: Pustakan Larasan, Bekerja Sama dengan Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP Unhalu dan LPPSK Sultra
Tebal Buku: xvii+278 halaman (14x21 cm)
ISBN: 978-979-3790-55-8
Cetakan Pertama: Januari 2011
Harga Khusus Hubungi: 085341518871
Selama ini Historiografi yang ada di Sulawesi Tenggara kurang memperhatikan sejarah kolaka. Buku ini akan merubah pandangan anda tentang sejarah Kolaka karena penulis bukan hanya berhasil mengungkapkan eksistensi Kolaka sebagai kota pelabuhan yang berbasis ekonomi dan perdagangan yang berdampak pada perkembangan kota tersebut, baik itu pemukiman, penduduk, dan fisik kota Kolaka. Akan tetapi, juga bagaimana hubungannya dengan kota-kota di kawasan Teluk Bone pada masa lalu.
Dengan buku ini kita dapat mengetahui dinamika sosial-ekonomi di awasan Teluk Bone dengan fokus perhatian terhadap Kolaka di pantai timur teluk ini. Jadi, berbeda dengan studi-studi terdahulu yang lebih terpusat kepada Kerajaan Bone dan Kerajaan Luwu, kini kita diajak melihat ke pantai timur yang dahulu merupakan basis dari Kerajaan Mekongga. Tentu saja dinamika kehidupan teluk dimungkinkan bila telah bertumbuh suatu kebudayaan bahari yang menyebabkan adanya lalu lintas yang ramai di kawasan ini.
selamat datang di blog saya
Cari Blog Ini
Minggu, 31 Juli 2011
MASUKNYA AGAMA ISLAM DI KERAJAAN MEKONGGA
Pada masa pemerintahan Bokeo Teporambe agama Islam mulai masuk di Kerajaan Mekongga yang dibawa oleh para pedagang dari Sulawesi Selatan. Selain itu ada juga utusan khusus dari Kerjaan Luwu yang datang membawa Islam, diperkirakan pada masa pemerintahan Datu Pati Arase di kerajaan Luwu yang digelar Petta Latinroe di Pattinrang sekitar abad ke-XVI.
Meskipun agama islam sudah masuk, tetap sampai Bokeo Teporambe meninggal dunia tidak masuk islam, sebagaimana dikemukakan beberapa sumber. Bokeo Teporambe kawin dengan Weheuka sehingga lahirlah Ponggokori, setelah ayahnya meninggal, maka nama anaknya diganti menjadi Lelemala. Setelah ayahnya Buburanda meninggal maka Lelemala menggantikan ayahnya menjadi Bokeo di Kerajaan Mekongga. Sekitar akhir abad ke XVI Lelemala memeluk agama islam yang dibawa oleh utusan dari sultan buton yang bernama La Embo.
Pada saat Lelemala memeluk islam beliau mengganti namanya menjadi Laduma, yang mempunyai arti La berarti laki-laki sedangkan Duma berarti Jum’at, dengan arti seorang laki-laki memeluk agama islam pada hari jum’at. Setelah Laduma meninggal dia diberi gelar Sangia Nibandera.
Pada masa pemerintahan Bokeo Laduma wilayah kekuasaan kerajaan mekongga semakin luas, sebab penduduk mekongga semakin banyak sehingga semakin banyak yang mendiami wilayah-wilayah kekuasaan kerajaan mekongga semakin luas ditambah dengan wilayah pemberian neneknya yakni tanah disebelah barat yang berbatasan dengan Teluk Bone dimulai dari Pasikala sampai Lapawawu/Tamboli.
Di masa pemerintahan Mekongga, agama islam sudah mulai berkembang dengan pesatnya, dimana beliau menerima utusan dari datu luwu yaitu opu daeng masaro yang datang ke mekongga dalam rangka mengajarkan dasar-dasar dan pandangan islam sekaligus mengislamkan Bokeo Laduma oleh Datu luwu. Setelah lama memeluk agama islam kerajaan mekongga semakin makmur sehingga mengherankan kalau pada saat beliau memerintah kerajaan mekongga mencapai puncak kejayaannya.
Bokeo Laduma berusaha menyebarkan islam ke seluruh pelosok kerajaan. Disamping itu beliau juga mendatangkan guru-guru agama dari kerajaan Luwu, bahkan diantara mereka banyak yang menikah dengan putri atau kerajaan sehingga semakin eratlah hubungan kedua kerajaan tersebut. Sehingga pada akhir abad ke-17 seluruh rakyat mekongga dinyatakan telah memeluk agama islam.
Disamping itu hubungan kerajaan mekongga dengan kerajaan-kerajaan tetangga semakin dipererat khususnya dengan kerajaan luwu. Hal ini terjadi ketika kerajaan mekongga membantu kerajaan luwu dalam perang melawan kerjaan soppeng. Dikisahkan bahwa pada waktu itu luwu tidak dapat mengalahkan soppeng sebaliknya soppeng hampir mengalahkan luwu. Disaat kebingungan datu luwu teringat akan kesaktian yang dimiliki Laduma. Datu Luwu lalu memohon kepada Mincarangapa dan mengundang Laduma untuk datang ke Luwu dalam rangka membantu luwu perang melawan soppeng. “atas bantuan kerajaan mekongga maka kerajaan luwu dapat memenangkan peperangan tersebut yang diperkirakan terjadi pada tahun 1679, dikala Lelemala (Laduma) berusia 59 tahun atau tepatnya 9 tahun beliau memerintah, dan sebagai tanda terima kasih serta penghargaannya kepada raja Laduma dan segenap rakyat mekongga maka datu luwu (datu alimuddin kemudian menyerahkan sebuah bendera Merah Putih Bertuliskan huruf-huruf al-qur’an, gambar bintang dan benda tajam (Munaser, 1994).
Setelah beliau kembali di mekongga maka diadakanlah doa syukuran dengan mengundang segenap rakyat dan aparat pemerintah, maka dikukuhkanlah Bokeo Laduma dengan gelar “Sangia Nibandera” yang berarti dewa yang diberi bendera dan bendera pembawa kemenangan. Dengan demikian semakin eratlah hubungan antara dua kerajaan sehingga seringkali orang mekongga mengucapkan bahwa Susano O luwu susano mekongga, artinya susahnya Luwu, maka susahnyajuga mekongga.
Guna menyebarkan agama islam, maka Bokeo Laduma mendatangkan guru-guru agama islam dari luwu, bone, gowa dan buton. Disamping ada juga banyak pedagang-pedagang dari keempat kerajaan tetangga yang keluar masuk kerajaan mekongga untuk berdagang sambil menyabarkan agama islam khususnya di daerah-daerah pesisir pantai.
Pengiriman guru-guru agama terus berlanjut. Meskipun Laduma sudah meninggal namun pengiriman guru-guru agama tetap berlanjut. Diantara guru agama tersebut ada yang kawin dengan keluarga raja-raja di mekongga diantaranya Opu Daeng Mapuji atau Opu Palinrungan. Matano Opu Daeng mapuji mempersunting putri Bokeo Robe yang bernama Wedasa.
Meskipun agama islam sudah masuk, tetap sampai Bokeo Teporambe meninggal dunia tidak masuk islam, sebagaimana dikemukakan beberapa sumber. Bokeo Teporambe kawin dengan Weheuka sehingga lahirlah Ponggokori, setelah ayahnya meninggal, maka nama anaknya diganti menjadi Lelemala. Setelah ayahnya Buburanda meninggal maka Lelemala menggantikan ayahnya menjadi Bokeo di Kerajaan Mekongga. Sekitar akhir abad ke XVI Lelemala memeluk agama islam yang dibawa oleh utusan dari sultan buton yang bernama La Embo.
Pada saat Lelemala memeluk islam beliau mengganti namanya menjadi Laduma, yang mempunyai arti La berarti laki-laki sedangkan Duma berarti Jum’at, dengan arti seorang laki-laki memeluk agama islam pada hari jum’at. Setelah Laduma meninggal dia diberi gelar Sangia Nibandera.
Pada masa pemerintahan Bokeo Laduma wilayah kekuasaan kerajaan mekongga semakin luas, sebab penduduk mekongga semakin banyak sehingga semakin banyak yang mendiami wilayah-wilayah kekuasaan kerajaan mekongga semakin luas ditambah dengan wilayah pemberian neneknya yakni tanah disebelah barat yang berbatasan dengan Teluk Bone dimulai dari Pasikala sampai Lapawawu/Tamboli.
Di masa pemerintahan Mekongga, agama islam sudah mulai berkembang dengan pesatnya, dimana beliau menerima utusan dari datu luwu yaitu opu daeng masaro yang datang ke mekongga dalam rangka mengajarkan dasar-dasar dan pandangan islam sekaligus mengislamkan Bokeo Laduma oleh Datu luwu. Setelah lama memeluk agama islam kerajaan mekongga semakin makmur sehingga mengherankan kalau pada saat beliau memerintah kerajaan mekongga mencapai puncak kejayaannya.
Bokeo Laduma berusaha menyebarkan islam ke seluruh pelosok kerajaan. Disamping itu beliau juga mendatangkan guru-guru agama dari kerajaan Luwu, bahkan diantara mereka banyak yang menikah dengan putri atau kerajaan sehingga semakin eratlah hubungan kedua kerajaan tersebut. Sehingga pada akhir abad ke-17 seluruh rakyat mekongga dinyatakan telah memeluk agama islam.
Disamping itu hubungan kerajaan mekongga dengan kerajaan-kerajaan tetangga semakin dipererat khususnya dengan kerajaan luwu. Hal ini terjadi ketika kerajaan mekongga membantu kerajaan luwu dalam perang melawan kerjaan soppeng. Dikisahkan bahwa pada waktu itu luwu tidak dapat mengalahkan soppeng sebaliknya soppeng hampir mengalahkan luwu. Disaat kebingungan datu luwu teringat akan kesaktian yang dimiliki Laduma. Datu Luwu lalu memohon kepada Mincarangapa dan mengundang Laduma untuk datang ke Luwu dalam rangka membantu luwu perang melawan soppeng. “atas bantuan kerajaan mekongga maka kerajaan luwu dapat memenangkan peperangan tersebut yang diperkirakan terjadi pada tahun 1679, dikala Lelemala (Laduma) berusia 59 tahun atau tepatnya 9 tahun beliau memerintah, dan sebagai tanda terima kasih serta penghargaannya kepada raja Laduma dan segenap rakyat mekongga maka datu luwu (datu alimuddin kemudian menyerahkan sebuah bendera Merah Putih Bertuliskan huruf-huruf al-qur’an, gambar bintang dan benda tajam (Munaser, 1994).
Setelah beliau kembali di mekongga maka diadakanlah doa syukuran dengan mengundang segenap rakyat dan aparat pemerintah, maka dikukuhkanlah Bokeo Laduma dengan gelar “Sangia Nibandera” yang berarti dewa yang diberi bendera dan bendera pembawa kemenangan. Dengan demikian semakin eratlah hubungan antara dua kerajaan sehingga seringkali orang mekongga mengucapkan bahwa Susano O luwu susano mekongga, artinya susahnya Luwu, maka susahnyajuga mekongga.
Guna menyebarkan agama islam, maka Bokeo Laduma mendatangkan guru-guru agama islam dari luwu, bone, gowa dan buton. Disamping ada juga banyak pedagang-pedagang dari keempat kerajaan tetangga yang keluar masuk kerajaan mekongga untuk berdagang sambil menyabarkan agama islam khususnya di daerah-daerah pesisir pantai.
Pengiriman guru-guru agama terus berlanjut. Meskipun Laduma sudah meninggal namun pengiriman guru-guru agama tetap berlanjut. Diantara guru agama tersebut ada yang kawin dengan keluarga raja-raja di mekongga diantaranya Opu Daeng Mapuji atau Opu Palinrungan. Matano Opu Daeng mapuji mempersunting putri Bokeo Robe yang bernama Wedasa.
Kerajaan Mekongga
Kerajaan Mekongga
Latar belakang berdirinya kerajaan mekongga di daratan sulawesi tenggara ada suatu tradisi atau cerita rakyat yang pernah berkembang di daerah kolaka yang pada saat sebelum berdirinya kerajaan mekongga disebut wonua sorume (negeri anggrek), karena wilayahnya banyak ditumbuhi bermacam-macam anggrek pada zaman itu. Di mana anggrek (sorume) sangat dibutuhkan oleh masyarakat mekongga, sehingga daerah ini disebut wonua sorume (negeri anggrek). Wonua sorume merupakan daerah yang sangat subur, sehingga itulaj sebabnya pada saat penduduk pertama tiba di daerah ini yang berasal dari utara yaitu daerah pedalaman sekitar danai matano dan mahalona melalui daerah mori dan bungku kemudian bergerak ke bagian selatan danau towuti terus menuju ke arah selatan dan akhirnya bermukim di hulu sungai konaweeha.
Disana mereka bermukim untuk sementara waktu dan tempat bermukim mereka itu disebut andolaki yang artinya tempat tinggal orang/suku tolaki. Dari tempat itulah mereka terbagi dua serombongan kemudian melanjutkan perjalanan mengikuti sungai besar yaitu sungai konaweeha sambil mendesak penduduk asli yaitu orang-orang moronene, rombongan inilah yang dikenal sebagai suku tolaki konawe atau to konawe. Kemudian serombongan lagi mengikuti lereng pegunungan mekongga, lalu membelok ke arah barat daya menyusuri sungai-sungai kecil hingga tibalah mereka di tempat yang bari mereka namakan wonua sorume, rombongan inilah yang dikenal sebagai suku tolaki mekongga atau to mekongga. Mereka lalu membentuk kelompok masyarakat dan menempati daerah ini. Namun oleh karena keturunan mereka makin lama makin banyak, maka mulailah mereka mencari daerah- daerah baru sebagai tempat permukimannya dan setelah menemukannya, mereka lalu mengolahnya untuk dijadikan daerah peladangan yang disebut mondau. Dan sistem kelompok usaha ladang ini merekan namakan metobu. Arti istilah metobu inilah lahir suatu komunitas kecil yang disebut tobu, yaitu wilayah pemukiman yang sama kedudukannya dengan kampung atau desa. Sehingga dari usaha perladangan inilah sehingga terbentuk beberapa tobu yang dipimpin oleh seorang Toono Motuo (orang tua) yang terdiri dari 7 wilayah toono motuo (Munaser, 1994 : 4), yaitu:
1. Toono motuo puuehu (wundulako)
2. Toono motuo tikonu
3. Toono motuo puundoho/baula
4. Toono motuo sabilambo
5. Toono motuo laloeha/lalombaa
6. Toono motuo poondui
7. Toono motuo lambo
Ketujuh tobu/toono motuo tersebut diatas adalah merupakan kampung atau tempat tinggal pertama kelompok masyarakat mekongga sebelum terbentuk menjadi sebuah kerajaan.
Dari tradisi yang berkembang pada masyarakat mekongga bahwa saat itu hiduplah seekor burung raksasa yang dinamakan KONGGAAHA. Istilah konggaha berarti elang besar (kongga). Konon cerintany burung elang tersebut besarnya tujuh kasi lipat kerbau putih (kerbau pute). Burung tersebut sangat buas, karena disamping memakan kewan seperti kerbau, juga memangsa manusia. Dari cerita inilah dinamakan kerjaan mekongga, karena daerah ini merupakan tempat terbunuhnya burung kongga tersebut. Mekongga mempunyai arti dalam bahasa tolaki, sbb:
- Kata ‘Me’ : berarti melakukan suatu kegiatan
- Sedangkan ‘Kongga’ : nama burung (elang)
Jadi mekongga berarti melakukan kegiatan membunuh burung elang/ kegiatan memburu elang besar (kongga owose). Bahkan sampai sekarang di daerah kecamatan Wundulako ada sebuah desa dan sungai diberi nama sungai Lamekongga. Semua pernghuni dari ketuju tobu/toonomotuo tersebut merasa terancam dan selalu dicekam rasa takut. Telah banyak cara yang dilakukan untuk membunuh burung kongga tersebut, namun selalu sia-sia.
Bersamaan dengan itu pada awal abad ke –X, disuatu bukit yang bernama bukit kolumba yang terletak di desa Balandete sekarang, telah turun seorang laki-laki dan perempuan kakak-beradik. Mereka mengendari sarung besar (toloa mbekadu) atau sawuuha yang turunnya bersamaan dengan berhembusnya angin yang sangat kuat. Mereka adalah larumpalangi dan wekoila yang kelak menjadi anakiano wonua (bangsawan yang memimpin negeri). Masyarakat tolaki percaya bahwa mereka berdua adalah merupakan titisan dewata yang agung, sehingga mereka dianggap sebagai dewa.
Kedatangan mereka berdua sangat cepat diketahui oleh para toonomotuo sehingga ketujuh pemimpin tobu tersebut bersepakan dan mengadakan musyawarah untuk menemui larumpalangi dan menceritakan tentang kebuasan burung elang besar (konggaaha) yang sangat meresahkan mereka selama puluhan tahun.
Permohonan ke tuhjuh toonomotuo tetrsebut diterima baik oleh larumpalangi dan dilaksanakan pembunuhan konggaaha, denga kesepakan bahwa:
1. Setiap masyarakat penghuni tobu menyadiakan bambu runcing (o sungga)
2. Disiapkan seorang manusia sebagai umpan
3. Sebuah pohon ditatah dahannya sebagai tempat larumpalangi berdiri
4. Disiapkan gong, lesung dan alat bunyi-bunyian lainnya yang akan dipukul untuk menarik perhatian burung konggaaha
5. Perempuan dan anak-anak mencari perlindungan sedangkan laki-laki dewasa harus siap dengan segala peralatan (Munaser, 1994:6).
Berkat strategi dan taktik yang dilakukan larumpalangi, maka burung konggaaha tersebut dapat dibunuh. Maka dengan terbunuhnya konggaja, maka bersepakatlah ketujuh toonomotuo penghulu tobu untuk mengangkat larumpalangi menjadi pemimpin mereka dan selanjutnya dikukuhkan menjadi raja pertama di mekongga dan bergelar sangia larumpalangi. Dan ketujuh daerah toonomotuo tersebut kelak menjadi daerah istimewa dan mempunyai hak untuk turut serta dalam memusyawarakan pemilihan dan pelantikan raja. Sejak saat itulah terbentuknya suatu kerjaan di daratan sulawesi tenggara yang bernama wonua sorume yang kemudian menjadi kerjaan mekongga. Pemberian nama kerjaan mekongga adalah untuk mengingat suatu peristiwa yang sangat bersejarah pada masyarakat tolaki di kolaka.
Pada saat musyawarah untuk mengangkat larumpalangi sebagai raja di kerjaan mekongga dilakukan kesepakatan antara para toonomotuo dengan larumpalangi. Adapun kesepakatan tersebut adalah sbb:
1. Wilayah-wilayah yang terpisah-terpisah hendaklah menjadi satu kesatuan yang kokoh dan bulat.
2. Orang banyak hendaklah selalu bersatu dan merupakan satu kesatuan yang tidak terpecah belah seperti sebelumnya.
3. Bahwa ia sebagai pemimpin orang banyak, iepo nomosele kaeno keno onggo mongga; arinya barulah tangannya basah kalau ia hendak makan, maksudnya bahwa urusan-urusan pemerintahan baru disodorkan kepadanya kalau telah dimatangkan oleh orang banyak, tugasnya bahwa segala sesuatu hendaklah atas kehendak orang banyak barulah ia akan melaksanakannya.
4. Pengangkatannya sebagai pemimpin adalah atas kehendak orang banyak, bukan karena kekerasan.
Bahwasannya persatuan orang banyak merupakan suatu kesatuan daerah (wonua) yang mempunyai wilayah tertentu yang diberi nama wonua atau lipu (mekongga) demi untuk memperingati peristiwa pembunuhan konggaowose (Dokumenta, 1967).
Dengan menggunakan nama mekongga sebagai nama negeri kekuasaannya, diharapkan kelak generasi berikutnya akan selalu mengingat bahwa daerah yang perna terpecah belah karena adanya wilayah yang dikuasai oleh para toono sudah bersatu menjadi satu kesatuan.
Walaupun larumpalangi keturunan to manurung, namun beliau telah membawa rakyatnya hidup aman dan makmur selama beberapa waktu lamanya, yang kemudian digantikan oleh tomanuru-tomauru lainnya. Berapa lama mereka memerintah tidak diketahui dengan pasti sebab tidak ada data maupun petunjuk sebagai bukti.
Oleh karena kerajaan mekongga terletak dipedalaman jauh dari pesisir pantai, maka masyarakatnya menggantungkan hidupya dari pertanian dengan cara Mondaui. Hal ini disadari oleh larumpalangi sehingga disuruhlah saudaranya yang bernama Wasasi Wasabenggali dari kerjaan Luwu untuk mengajarkan cara-cara bertani yang baik guna memperoleh hasil yang banyak demi kemakmuran rakyatnya.
Pusat pemerintahan kerjaan mekongga pada mulanya berpusat di Kolumba, Ulu Balandete kurang lebih 6 Km dari kolaka sekarang. Pusat kerjaan kemudian berpindah ke Puehu yakni daerah Wundulako sekarang.
Pada postingan selanjutnya akan dibahas lagi mengenai struktur pemerintahan dan perkembangan kerajaan mekongga sampai tenggelamnya...
Latar belakang berdirinya kerajaan mekongga di daratan sulawesi tenggara ada suatu tradisi atau cerita rakyat yang pernah berkembang di daerah kolaka yang pada saat sebelum berdirinya kerajaan mekongga disebut wonua sorume (negeri anggrek), karena wilayahnya banyak ditumbuhi bermacam-macam anggrek pada zaman itu. Di mana anggrek (sorume) sangat dibutuhkan oleh masyarakat mekongga, sehingga daerah ini disebut wonua sorume (negeri anggrek). Wonua sorume merupakan daerah yang sangat subur, sehingga itulaj sebabnya pada saat penduduk pertama tiba di daerah ini yang berasal dari utara yaitu daerah pedalaman sekitar danai matano dan mahalona melalui daerah mori dan bungku kemudian bergerak ke bagian selatan danau towuti terus menuju ke arah selatan dan akhirnya bermukim di hulu sungai konaweeha.
Disana mereka bermukim untuk sementara waktu dan tempat bermukim mereka itu disebut andolaki yang artinya tempat tinggal orang/suku tolaki. Dari tempat itulah mereka terbagi dua serombongan kemudian melanjutkan perjalanan mengikuti sungai besar yaitu sungai konaweeha sambil mendesak penduduk asli yaitu orang-orang moronene, rombongan inilah yang dikenal sebagai suku tolaki konawe atau to konawe. Kemudian serombongan lagi mengikuti lereng pegunungan mekongga, lalu membelok ke arah barat daya menyusuri sungai-sungai kecil hingga tibalah mereka di tempat yang bari mereka namakan wonua sorume, rombongan inilah yang dikenal sebagai suku tolaki mekongga atau to mekongga. Mereka lalu membentuk kelompok masyarakat dan menempati daerah ini. Namun oleh karena keturunan mereka makin lama makin banyak, maka mulailah mereka mencari daerah- daerah baru sebagai tempat permukimannya dan setelah menemukannya, mereka lalu mengolahnya untuk dijadikan daerah peladangan yang disebut mondau. Dan sistem kelompok usaha ladang ini merekan namakan metobu. Arti istilah metobu inilah lahir suatu komunitas kecil yang disebut tobu, yaitu wilayah pemukiman yang sama kedudukannya dengan kampung atau desa. Sehingga dari usaha perladangan inilah sehingga terbentuk beberapa tobu yang dipimpin oleh seorang Toono Motuo (orang tua) yang terdiri dari 7 wilayah toono motuo (Munaser, 1994 : 4), yaitu:
1. Toono motuo puuehu (wundulako)
2. Toono motuo tikonu
3. Toono motuo puundoho/baula
4. Toono motuo sabilambo
5. Toono motuo laloeha/lalombaa
6. Toono motuo poondui
7. Toono motuo lambo
Ketujuh tobu/toono motuo tersebut diatas adalah merupakan kampung atau tempat tinggal pertama kelompok masyarakat mekongga sebelum terbentuk menjadi sebuah kerajaan.
Dari tradisi yang berkembang pada masyarakat mekongga bahwa saat itu hiduplah seekor burung raksasa yang dinamakan KONGGAAHA. Istilah konggaha berarti elang besar (kongga). Konon cerintany burung elang tersebut besarnya tujuh kasi lipat kerbau putih (kerbau pute). Burung tersebut sangat buas, karena disamping memakan kewan seperti kerbau, juga memangsa manusia. Dari cerita inilah dinamakan kerjaan mekongga, karena daerah ini merupakan tempat terbunuhnya burung kongga tersebut. Mekongga mempunyai arti dalam bahasa tolaki, sbb:
- Kata ‘Me’ : berarti melakukan suatu kegiatan
- Sedangkan ‘Kongga’ : nama burung (elang)
Jadi mekongga berarti melakukan kegiatan membunuh burung elang/ kegiatan memburu elang besar (kongga owose). Bahkan sampai sekarang di daerah kecamatan Wundulako ada sebuah desa dan sungai diberi nama sungai Lamekongga. Semua pernghuni dari ketuju tobu/toonomotuo tersebut merasa terancam dan selalu dicekam rasa takut. Telah banyak cara yang dilakukan untuk membunuh burung kongga tersebut, namun selalu sia-sia.
Bersamaan dengan itu pada awal abad ke –X, disuatu bukit yang bernama bukit kolumba yang terletak di desa Balandete sekarang, telah turun seorang laki-laki dan perempuan kakak-beradik. Mereka mengendari sarung besar (toloa mbekadu) atau sawuuha yang turunnya bersamaan dengan berhembusnya angin yang sangat kuat. Mereka adalah larumpalangi dan wekoila yang kelak menjadi anakiano wonua (bangsawan yang memimpin negeri). Masyarakat tolaki percaya bahwa mereka berdua adalah merupakan titisan dewata yang agung, sehingga mereka dianggap sebagai dewa.
Kedatangan mereka berdua sangat cepat diketahui oleh para toonomotuo sehingga ketujuh pemimpin tobu tersebut bersepakan dan mengadakan musyawarah untuk menemui larumpalangi dan menceritakan tentang kebuasan burung elang besar (konggaaha) yang sangat meresahkan mereka selama puluhan tahun.
Permohonan ke tuhjuh toonomotuo tetrsebut diterima baik oleh larumpalangi dan dilaksanakan pembunuhan konggaaha, denga kesepakan bahwa:
1. Setiap masyarakat penghuni tobu menyadiakan bambu runcing (o sungga)
2. Disiapkan seorang manusia sebagai umpan
3. Sebuah pohon ditatah dahannya sebagai tempat larumpalangi berdiri
4. Disiapkan gong, lesung dan alat bunyi-bunyian lainnya yang akan dipukul untuk menarik perhatian burung konggaaha
5. Perempuan dan anak-anak mencari perlindungan sedangkan laki-laki dewasa harus siap dengan segala peralatan (Munaser, 1994:6).
Berkat strategi dan taktik yang dilakukan larumpalangi, maka burung konggaaha tersebut dapat dibunuh. Maka dengan terbunuhnya konggaja, maka bersepakatlah ketujuh toonomotuo penghulu tobu untuk mengangkat larumpalangi menjadi pemimpin mereka dan selanjutnya dikukuhkan menjadi raja pertama di mekongga dan bergelar sangia larumpalangi. Dan ketujuh daerah toonomotuo tersebut kelak menjadi daerah istimewa dan mempunyai hak untuk turut serta dalam memusyawarakan pemilihan dan pelantikan raja. Sejak saat itulah terbentuknya suatu kerjaan di daratan sulawesi tenggara yang bernama wonua sorume yang kemudian menjadi kerjaan mekongga. Pemberian nama kerjaan mekongga adalah untuk mengingat suatu peristiwa yang sangat bersejarah pada masyarakat tolaki di kolaka.
Pada saat musyawarah untuk mengangkat larumpalangi sebagai raja di kerjaan mekongga dilakukan kesepakatan antara para toonomotuo dengan larumpalangi. Adapun kesepakatan tersebut adalah sbb:
1. Wilayah-wilayah yang terpisah-terpisah hendaklah menjadi satu kesatuan yang kokoh dan bulat.
2. Orang banyak hendaklah selalu bersatu dan merupakan satu kesatuan yang tidak terpecah belah seperti sebelumnya.
3. Bahwa ia sebagai pemimpin orang banyak, iepo nomosele kaeno keno onggo mongga; arinya barulah tangannya basah kalau ia hendak makan, maksudnya bahwa urusan-urusan pemerintahan baru disodorkan kepadanya kalau telah dimatangkan oleh orang banyak, tugasnya bahwa segala sesuatu hendaklah atas kehendak orang banyak barulah ia akan melaksanakannya.
4. Pengangkatannya sebagai pemimpin adalah atas kehendak orang banyak, bukan karena kekerasan.
Bahwasannya persatuan orang banyak merupakan suatu kesatuan daerah (wonua) yang mempunyai wilayah tertentu yang diberi nama wonua atau lipu (mekongga) demi untuk memperingati peristiwa pembunuhan konggaowose (Dokumenta, 1967).
Dengan menggunakan nama mekongga sebagai nama negeri kekuasaannya, diharapkan kelak generasi berikutnya akan selalu mengingat bahwa daerah yang perna terpecah belah karena adanya wilayah yang dikuasai oleh para toono sudah bersatu menjadi satu kesatuan.
Walaupun larumpalangi keturunan to manurung, namun beliau telah membawa rakyatnya hidup aman dan makmur selama beberapa waktu lamanya, yang kemudian digantikan oleh tomanuru-tomauru lainnya. Berapa lama mereka memerintah tidak diketahui dengan pasti sebab tidak ada data maupun petunjuk sebagai bukti.
Oleh karena kerajaan mekongga terletak dipedalaman jauh dari pesisir pantai, maka masyarakatnya menggantungkan hidupya dari pertanian dengan cara Mondaui. Hal ini disadari oleh larumpalangi sehingga disuruhlah saudaranya yang bernama Wasasi Wasabenggali dari kerjaan Luwu untuk mengajarkan cara-cara bertani yang baik guna memperoleh hasil yang banyak demi kemakmuran rakyatnya.
Pusat pemerintahan kerjaan mekongga pada mulanya berpusat di Kolumba, Ulu Balandete kurang lebih 6 Km dari kolaka sekarang. Pusat kerjaan kemudian berpindah ke Puehu yakni daerah Wundulako sekarang.
Pada postingan selanjutnya akan dibahas lagi mengenai struktur pemerintahan dan perkembangan kerajaan mekongga sampai tenggelamnya...
MENUJU KERAJAAN JIN MEKONGGA
MENUJU KERAJAAN JIN MEKONGGA
28 Oktober 2001 Gunung Mekongga, gunung tertinggi di Sulawesi Tenggara, tak banyak dikenal. Namun, menarik untuk didaki dan disimak cerita misterinya, terutama tentang kerajaan jinnya.
Sore awal Agustus lalu , rombongan kami tiba di desa Tinukari, kecamatan Ranteangin, kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara. Desa kecil itu terletak 300 kilometer sebelah barat daya kota Kendari.
Matahari sudah tenggelam dan sayup-sayup di kejauhan terdengar suara azan dari desa sebelah. Mobil sewaan yang kami tumpangi dari Kolaka berhenti di depan rumah Pak Desa. Bergegas, 18 orang anggota tim menurunkan ransel-ransel dan barang bawaan lainnya. Di sekitar kami, mulai berkumpul anak – anak kecil dan beberapa gadis remaja.
Ternyata, kehadiran rombongan yang hendak mendaki Gunung Mekongga sangat menarik perhatian mereka. Sementara itu kami memandangi barisan pegunungan Mekongga berdiri dengan megah. Indah, namun sunyi dan menyimpan misteri.
“Mari, silakan masuk!” ujar Bu Desa ramah menyambut rombongan. Kami pun bergegas menata barang dan kemudian mandi di sungai Aala Ranteangin yang jernih dan segar. Sebagai satu – satunya kaum hawa, saya dipersilakan membersihkan diri di kamar mandi Bu Tato yang tinggal di seberang Bu Desa. Airnya toh sama segar, langsung dari gunung.
Malam itu kami berbincang – bincang dengan Pak Desa yang ramah. Ia banyak bercerita mengenai Mekongga. Berbagai cerita tersebut semakin menambah semangat mendaki sampai ke puncak dan menggelar upacara 17 Agustus di sana.
Senin, 13 Agustus 2001. Seluruh anggota tim telah siap berangkat. Kami berdoa bersama di halaman rumah Bu Tato. Canda tawa terselip di sela – sela keheningan. Kami berpegangan tangan membentuk lingkaran. Kemudian berdoa bersama – sama, memohon kemudahan dan keselamatan.
Pendakian bersama kali ini diikuti 18 orang dari berbagai kelompok Pencinta Alam. Ada 4 orang dari Mahacala Unhalu, 1 orang dari Navernos FE Unhalu, 2 dari IKAMI – SS Kendari, 3 dari Pasific FISIP Unhalu, 2 dari Matepala Universitas Pattimura Ambon, dan saya sendiri bersama 5 teman dari KMPA “Ganesha” ITB. Berbagai latar belakang tadi disatukan oleh satu keinginan mendaki puncak Mekongga. Kami adalah satu tim, begitu tekadnya.
Jam tangan saya menunjukkan waktu pukul 8.00 WITA. Kami memulai perjalanan meninggalkan rumah Bu Tato. Pak Desa ikut melepas sambil tak lupa menasihati kami untuk berhati – hati. Lambaian tangan penduduk desa hangat melepas kami.
Sehabis jalan aspal desa, kami memasuki jalan setapak di tengah kebun cokelat. Perjalanan belum mendapat hambatan berarti. Tak lama kami menemukan sungai cukup lebar, kurang lebih 10 meter, dengan arus cukup deras. Mau tak mau rombongan harus menyeberanginya. Aksi gulung celana tinggi – tinggi dilakukan dan air sungai sebatas paha itu kami lewati.
Lintasan selanjutnya mulai berbahaya. Kami terus menyusuri sungai melewati jalan setapak penebang rotan. Tak jarang kami harus melintas di tebing licin di sepanjang sungai. Teman saya, Billy, sempat merasakan jatuh bebas dari tebing. Untung cideranya tak serius dan dia masih bisa berjalan.
Bila dihitung – hitung, kami menyeberangi sungai sebanyak 4 kali. Menjelang tengah hari, kami tiba di pertemuan dua sungai, yaitu Aala Mosembo dan Aala Tinukari yang jernih dan menyegarkan. Aala artinya sungai dalam bahasa Tolaki.
Panas terik di ketinggian 100 m dpl itu tak muncul lagi. Kami mandi sejenak membasuh keringat yang membasahi tubuh. Perjalanan dihentikan untuk beristirahat makan siang dan ganti pakaian. Maklum, selepas ini kami mulai masuk hutan. Celana pendek dan sandal terpaksa masuk ransel.
Sejak saat ini anggota tim bertambah satu. Ada seekor anjing yang mengikuti kami. Cai, teman dari Unpati, memberinya nama Bram. Anjing kampung berwarna cokelat itu pun resmi masuk tim.
Sekitar pukul 12 siang, kami mulai bergerak kembali. Jalur semakin menggila. Tanjakan terus tanpa bonus. Perlahan – lahan kami menapaki jalan penebang rotan tersebut. Terik matahari makin memperlambat langkah. Vegetasi yang dominan adalah rotan dan tanaman perdu, khas hutan tropis.
Dua jam kemudian kami tiba di jalan HBI, yaitu perusahaan kayu yang pernah beroperasi sejak 1996. Karena protes masyarakat akibat kerusakan lingkungan yang ditimbulkan, perusahaan ini gulung tikar 1999 lalu. Kalau tidak, entah apa jadinya hutan indah ini.
Perjalanan mulai menyenangkan kembali. Canda tawa mulai terdengar. Kami menyusuri bekas – bekas jalan HBI yang sekarang sudah tertutup. Ilalang dan rotan menemani langkah kami bersama jejak – jejak kotoran sapi. Sapi siapa di tengah hutan begini? Saya teringat cerita Pak Ali, sesepuh desa Tinukari. Menurut beliau, dulu di zaman DI/TII, sapi – sapi dilepas ke hutan sebagai ransum makanan untuk gerombolan yang bersembunyi di hutan. Jadi, mungkin saja sapi – sapi itu keturunan sapi zaman perang dulu.
Pukul 4 sore kami tiba di ketinggian 490 m dpl. Di sana ada sebuah pondok kayu milik perotan. Kami memutuskan untuk membuat perkemahan. Kami menyebutnya sebagai camp 1. Ah, senang rasanya bisa melepas ransel yang telah disandang seharian. Apalagi kami disambut suguhan udang goreng dan nasi merah yang rasanya selangit. Enak betul di tengah hutan makan udang, gratis lagi.
Malam itu kami sempat berbincang – bincang. Evaluasi perjalanan hari pertama dan membahas rencana esok. Dari pondok terdengar lantunan lagu – lagu Bugis lewat radio. Sungguh kehidupan yang sederhana!
Keesokan harinya, seperti biasa kami bergegas sarapan dan mengepak bawaan. Gara – gara keasyikan mengobrol tadi malam, beberapa teman terlambat bangun. Perjalanan sempat mundur setengah jam. Kami kembali menyusuri jalan HBI. Ketinggian bertambah sedikit demi sedikit.
Jalan HBI yang kami lewati kebanyakan sudah longsor dan tertutup semak. Di ketinggian 1000 m, panorama mulai terbuka. Vegetasi tumbuhan kayu mulai bertambah, ada perdu, lumut, dan kantong semar. Di sebelah timur tampak jajaran perbukitan Mekongga yang menjari ke mana – mana.
Pada hari kedua, kami merencanakan mendaki hingga ketinggian 1.480 m dpl atau menuju camp 2. Tentu bukan sesuatu yang mudah. Jalurnya membosankan dan terus menanjak. Untunglah mitos yang kami dengar tidak terjadi. Menurut penduduk, kalau ada orang baru yang mendaki Mekongga pasti disambut hujan lebat. Tapi, siang itu kami tidak kehujanan. Padahal, cuaca mendung dan awan hitam mengikuti. Alam ternyata masih bersahabat.
Malam itu, sesudah evaluasi, kami putuskan untuk segera beristirahat. Menurut plot jalur di peta yang kami bawa, jalur besok akan semakin menggila. Kami merencanakan untuk tiba di camp 3 pada ketinggian 2.520 m dpl.
Perjalanan hari ketiga mulai bervariasi. Menjelang tengah hari, di ketinggian 1.900 m dpl, kami mulai meninggalkan jalan HBI. Di kejauhan tampak Osu Mosembo tertutup kabut. Osu dalam bahasa Tolaki berarti gunung.
Sejak saat ini pergerakan ditentukan sudut kompas dan titik ketinggian berdasarkan jalur yang direncanakan. Peta topografi skala 1 : 50.000 dari Bakosurtanal cukup membantu walau kadang menipu. Banyak sekali punggungan tidak terpetakan. Pegunungan Mekongga yang menjari ke mana – kemana itu bisa menyesatkan kalau kami salah memilihnya.
Jalur naik – turun punggungan memang melelahkan. Lumut dan cantigi mulai menutup jalan dan pohon perdu. Vegetasi khas daerah subalpine atau lahan dengan ketinggian lebih tinggi dari 2.000 m dpl.
Sekitar pukul 2 siang, kami memasuki kompleks bebatuan yang disebut Musero – sero di ketinggian 2.320 m dpl. Inilah tempat yang diyakini sebagai pusat kerajaan jin untuk daerah Kolaka Utara.
Di tempat kami beristirahat terdapat tumpukan batuan menyerupai meriam. Moncongnya mengarah ke “Kabah” , sementara tebing batunya nun jauh di sebelah timur. Menjelang senja sering terdengar suara azan dari Kabah. Banyak cerita tentang lokasi ini.
Pukul setengah lima sore kami tiba di camp 3, berupa puncak punggungan seluas lapangan bulutangkis. Sepanjang perjalanan, kami memasang string line untuk petunjuk jalan sambil merapikan jalur pendakian. Ketinggian 2.520 m dpl, tinggal 100 meter lagi menuju puncak. Di kejauhan tampak puncak Mekongga yang berbentuk kubah batu menatap kami. Sungguh perjalanan panjang. Kami masih harus melewati beberapa punggungan tipis untuk tiba di sana.
Saat evaluasi, kami memutuskan untuk beristirahat sehari sebelum melakukan summit attack pada 17 Agustus. Keesokan harinya kami manfaatkan untuk beristirahat total. Ternyata serangan kutu babi selama pendakian cukup dahsyat. Kutu – kutu tersebut menyerang dengan ganas ke seluruh tubuh. Menimbulkan gatal – gatal yang membuat kita ingin menggaruknya terus. Seluruh tubuh penuh dengan bintik merah. Pertolongan pertamanya harus puas dengan bedak antiseptik. Lumayan juga kenang – kenangan Mekongga ini.
Pada Jumat, 17 Agustus 2001, kami menuju puncak. Pukul 8 pagi seperti biasa kami berdoa bersama sebelum memulai perjalanan. Pergerakan cukup cepat karena kami hanya membawa daypack . Pergerakan masih berdasarkan sudut kompas dan titik ketinggian.
Di sini terbukti bahwa Mekongga memang indah. Cantigi dan lumut yang hijau menyejukkan pandangan. Di kejauhan puncak – puncak batu gamping memanggil – manggil untuk menuju ke arahnya. Kami terus berjalan berpindah – pindah punggungan. Mendekati puncak terdengar gonggongan Bram. Ternyata ia berpapasan dengan anoa.
Saya sempat melihat bayangan hitam berlari kencang ke bawah. Semua berebut ingin melihatnya. Memang sejak ketinggian 2.000 m dpl kami banyak menemukan jejak kotoran anoa, hewan endemik khas Sulawesi. Sesuatu yang aneh karena menurut literatur, anoa hanya bisa hidup di ketinggian 1.000 m, tapi ternyata di Mekongga, ia bisa sampai ke puncak.
Akhirnya pukul 11 siang seluruh tim tiba di puncak. Kami segera menghubungi pesawat – pesawat radio Kendari dan Ujung Pandang melalui pesawat HT. Puncak Mekongga merupakan kompleks bebatuan tajam yang luas. Untuk menuju puncak, kita harus memanjat tebing dengan batu lepas – lepas. Di puncak inilah kami melakukan pengibaran bendera Merah Putih, yang dilanjutkan dengan upacara dan doa bersama. Doa penuh syukur dan harapan untuk bangsa ini.
Selepas makan siang, kami kembali turun ke camp 3, mengikuti string line yang kami buat sewaktu naik. Tapi, ada juga beberapa teman yang tersesat. Untung kami dapat kembali ke camp sebelum gelap.
Dua hari berikutnya kami tiba kembali di desa Tinukari. Kami disambut Pak Desa dan Bu Desa dengan senyuman ramah. Malamnya kami makan opor ayam buatan Bu Desa. Beliau sengaja memotong 5 ekor ayam untuk menyambut kami. Tuntas sudah perjalanan kali ini. ms hendrawati
28 Oktober 2001 Gunung Mekongga, gunung tertinggi di Sulawesi Tenggara, tak banyak dikenal. Namun, menarik untuk didaki dan disimak cerita misterinya, terutama tentang kerajaan jinnya.
Sore awal Agustus lalu , rombongan kami tiba di desa Tinukari, kecamatan Ranteangin, kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara. Desa kecil itu terletak 300 kilometer sebelah barat daya kota Kendari.
Matahari sudah tenggelam dan sayup-sayup di kejauhan terdengar suara azan dari desa sebelah. Mobil sewaan yang kami tumpangi dari Kolaka berhenti di depan rumah Pak Desa. Bergegas, 18 orang anggota tim menurunkan ransel-ransel dan barang bawaan lainnya. Di sekitar kami, mulai berkumpul anak – anak kecil dan beberapa gadis remaja.
Ternyata, kehadiran rombongan yang hendak mendaki Gunung Mekongga sangat menarik perhatian mereka. Sementara itu kami memandangi barisan pegunungan Mekongga berdiri dengan megah. Indah, namun sunyi dan menyimpan misteri.
“Mari, silakan masuk!” ujar Bu Desa ramah menyambut rombongan. Kami pun bergegas menata barang dan kemudian mandi di sungai Aala Ranteangin yang jernih dan segar. Sebagai satu – satunya kaum hawa, saya dipersilakan membersihkan diri di kamar mandi Bu Tato yang tinggal di seberang Bu Desa. Airnya toh sama segar, langsung dari gunung.
Malam itu kami berbincang – bincang dengan Pak Desa yang ramah. Ia banyak bercerita mengenai Mekongga. Berbagai cerita tersebut semakin menambah semangat mendaki sampai ke puncak dan menggelar upacara 17 Agustus di sana.
Senin, 13 Agustus 2001. Seluruh anggota tim telah siap berangkat. Kami berdoa bersama di halaman rumah Bu Tato. Canda tawa terselip di sela – sela keheningan. Kami berpegangan tangan membentuk lingkaran. Kemudian berdoa bersama – sama, memohon kemudahan dan keselamatan.
Pendakian bersama kali ini diikuti 18 orang dari berbagai kelompok Pencinta Alam. Ada 4 orang dari Mahacala Unhalu, 1 orang dari Navernos FE Unhalu, 2 dari IKAMI – SS Kendari, 3 dari Pasific FISIP Unhalu, 2 dari Matepala Universitas Pattimura Ambon, dan saya sendiri bersama 5 teman dari KMPA “Ganesha” ITB. Berbagai latar belakang tadi disatukan oleh satu keinginan mendaki puncak Mekongga. Kami adalah satu tim, begitu tekadnya.
Jam tangan saya menunjukkan waktu pukul 8.00 WITA. Kami memulai perjalanan meninggalkan rumah Bu Tato. Pak Desa ikut melepas sambil tak lupa menasihati kami untuk berhati – hati. Lambaian tangan penduduk desa hangat melepas kami.
Sehabis jalan aspal desa, kami memasuki jalan setapak di tengah kebun cokelat. Perjalanan belum mendapat hambatan berarti. Tak lama kami menemukan sungai cukup lebar, kurang lebih 10 meter, dengan arus cukup deras. Mau tak mau rombongan harus menyeberanginya. Aksi gulung celana tinggi – tinggi dilakukan dan air sungai sebatas paha itu kami lewati.
Lintasan selanjutnya mulai berbahaya. Kami terus menyusuri sungai melewati jalan setapak penebang rotan. Tak jarang kami harus melintas di tebing licin di sepanjang sungai. Teman saya, Billy, sempat merasakan jatuh bebas dari tebing. Untung cideranya tak serius dan dia masih bisa berjalan.
Bila dihitung – hitung, kami menyeberangi sungai sebanyak 4 kali. Menjelang tengah hari, kami tiba di pertemuan dua sungai, yaitu Aala Mosembo dan Aala Tinukari yang jernih dan menyegarkan. Aala artinya sungai dalam bahasa Tolaki.
Panas terik di ketinggian 100 m dpl itu tak muncul lagi. Kami mandi sejenak membasuh keringat yang membasahi tubuh. Perjalanan dihentikan untuk beristirahat makan siang dan ganti pakaian. Maklum, selepas ini kami mulai masuk hutan. Celana pendek dan sandal terpaksa masuk ransel.
Sejak saat ini anggota tim bertambah satu. Ada seekor anjing yang mengikuti kami. Cai, teman dari Unpati, memberinya nama Bram. Anjing kampung berwarna cokelat itu pun resmi masuk tim.
Sekitar pukul 12 siang, kami mulai bergerak kembali. Jalur semakin menggila. Tanjakan terus tanpa bonus. Perlahan – lahan kami menapaki jalan penebang rotan tersebut. Terik matahari makin memperlambat langkah. Vegetasi yang dominan adalah rotan dan tanaman perdu, khas hutan tropis.
Dua jam kemudian kami tiba di jalan HBI, yaitu perusahaan kayu yang pernah beroperasi sejak 1996. Karena protes masyarakat akibat kerusakan lingkungan yang ditimbulkan, perusahaan ini gulung tikar 1999 lalu. Kalau tidak, entah apa jadinya hutan indah ini.
Perjalanan mulai menyenangkan kembali. Canda tawa mulai terdengar. Kami menyusuri bekas – bekas jalan HBI yang sekarang sudah tertutup. Ilalang dan rotan menemani langkah kami bersama jejak – jejak kotoran sapi. Sapi siapa di tengah hutan begini? Saya teringat cerita Pak Ali, sesepuh desa Tinukari. Menurut beliau, dulu di zaman DI/TII, sapi – sapi dilepas ke hutan sebagai ransum makanan untuk gerombolan yang bersembunyi di hutan. Jadi, mungkin saja sapi – sapi itu keturunan sapi zaman perang dulu.
Pukul 4 sore kami tiba di ketinggian 490 m dpl. Di sana ada sebuah pondok kayu milik perotan. Kami memutuskan untuk membuat perkemahan. Kami menyebutnya sebagai camp 1. Ah, senang rasanya bisa melepas ransel yang telah disandang seharian. Apalagi kami disambut suguhan udang goreng dan nasi merah yang rasanya selangit. Enak betul di tengah hutan makan udang, gratis lagi.
Malam itu kami sempat berbincang – bincang. Evaluasi perjalanan hari pertama dan membahas rencana esok. Dari pondok terdengar lantunan lagu – lagu Bugis lewat radio. Sungguh kehidupan yang sederhana!
Keesokan harinya, seperti biasa kami bergegas sarapan dan mengepak bawaan. Gara – gara keasyikan mengobrol tadi malam, beberapa teman terlambat bangun. Perjalanan sempat mundur setengah jam. Kami kembali menyusuri jalan HBI. Ketinggian bertambah sedikit demi sedikit.
Jalan HBI yang kami lewati kebanyakan sudah longsor dan tertutup semak. Di ketinggian 1000 m, panorama mulai terbuka. Vegetasi tumbuhan kayu mulai bertambah, ada perdu, lumut, dan kantong semar. Di sebelah timur tampak jajaran perbukitan Mekongga yang menjari ke mana – mana.
Pada hari kedua, kami merencanakan mendaki hingga ketinggian 1.480 m dpl atau menuju camp 2. Tentu bukan sesuatu yang mudah. Jalurnya membosankan dan terus menanjak. Untunglah mitos yang kami dengar tidak terjadi. Menurut penduduk, kalau ada orang baru yang mendaki Mekongga pasti disambut hujan lebat. Tapi, siang itu kami tidak kehujanan. Padahal, cuaca mendung dan awan hitam mengikuti. Alam ternyata masih bersahabat.
Malam itu, sesudah evaluasi, kami putuskan untuk segera beristirahat. Menurut plot jalur di peta yang kami bawa, jalur besok akan semakin menggila. Kami merencanakan untuk tiba di camp 3 pada ketinggian 2.520 m dpl.
Perjalanan hari ketiga mulai bervariasi. Menjelang tengah hari, di ketinggian 1.900 m dpl, kami mulai meninggalkan jalan HBI. Di kejauhan tampak Osu Mosembo tertutup kabut. Osu dalam bahasa Tolaki berarti gunung.
Sejak saat ini pergerakan ditentukan sudut kompas dan titik ketinggian berdasarkan jalur yang direncanakan. Peta topografi skala 1 : 50.000 dari Bakosurtanal cukup membantu walau kadang menipu. Banyak sekali punggungan tidak terpetakan. Pegunungan Mekongga yang menjari ke mana – kemana itu bisa menyesatkan kalau kami salah memilihnya.
Jalur naik – turun punggungan memang melelahkan. Lumut dan cantigi mulai menutup jalan dan pohon perdu. Vegetasi khas daerah subalpine atau lahan dengan ketinggian lebih tinggi dari 2.000 m dpl.
Sekitar pukul 2 siang, kami memasuki kompleks bebatuan yang disebut Musero – sero di ketinggian 2.320 m dpl. Inilah tempat yang diyakini sebagai pusat kerajaan jin untuk daerah Kolaka Utara.
Di tempat kami beristirahat terdapat tumpukan batuan menyerupai meriam. Moncongnya mengarah ke “Kabah” , sementara tebing batunya nun jauh di sebelah timur. Menjelang senja sering terdengar suara azan dari Kabah. Banyak cerita tentang lokasi ini.
Pukul setengah lima sore kami tiba di camp 3, berupa puncak punggungan seluas lapangan bulutangkis. Sepanjang perjalanan, kami memasang string line untuk petunjuk jalan sambil merapikan jalur pendakian. Ketinggian 2.520 m dpl, tinggal 100 meter lagi menuju puncak. Di kejauhan tampak puncak Mekongga yang berbentuk kubah batu menatap kami. Sungguh perjalanan panjang. Kami masih harus melewati beberapa punggungan tipis untuk tiba di sana.
Saat evaluasi, kami memutuskan untuk beristirahat sehari sebelum melakukan summit attack pada 17 Agustus. Keesokan harinya kami manfaatkan untuk beristirahat total. Ternyata serangan kutu babi selama pendakian cukup dahsyat. Kutu – kutu tersebut menyerang dengan ganas ke seluruh tubuh. Menimbulkan gatal – gatal yang membuat kita ingin menggaruknya terus. Seluruh tubuh penuh dengan bintik merah. Pertolongan pertamanya harus puas dengan bedak antiseptik. Lumayan juga kenang – kenangan Mekongga ini.
Pada Jumat, 17 Agustus 2001, kami menuju puncak. Pukul 8 pagi seperti biasa kami berdoa bersama sebelum memulai perjalanan. Pergerakan cukup cepat karena kami hanya membawa daypack . Pergerakan masih berdasarkan sudut kompas dan titik ketinggian.
Di sini terbukti bahwa Mekongga memang indah. Cantigi dan lumut yang hijau menyejukkan pandangan. Di kejauhan puncak – puncak batu gamping memanggil – manggil untuk menuju ke arahnya. Kami terus berjalan berpindah – pindah punggungan. Mendekati puncak terdengar gonggongan Bram. Ternyata ia berpapasan dengan anoa.
Saya sempat melihat bayangan hitam berlari kencang ke bawah. Semua berebut ingin melihatnya. Memang sejak ketinggian 2.000 m dpl kami banyak menemukan jejak kotoran anoa, hewan endemik khas Sulawesi. Sesuatu yang aneh karena menurut literatur, anoa hanya bisa hidup di ketinggian 1.000 m, tapi ternyata di Mekongga, ia bisa sampai ke puncak.
Akhirnya pukul 11 siang seluruh tim tiba di puncak. Kami segera menghubungi pesawat – pesawat radio Kendari dan Ujung Pandang melalui pesawat HT. Puncak Mekongga merupakan kompleks bebatuan tajam yang luas. Untuk menuju puncak, kita harus memanjat tebing dengan batu lepas – lepas. Di puncak inilah kami melakukan pengibaran bendera Merah Putih, yang dilanjutkan dengan upacara dan doa bersama. Doa penuh syukur dan harapan untuk bangsa ini.
Selepas makan siang, kami kembali turun ke camp 3, mengikuti string line yang kami buat sewaktu naik. Tapi, ada juga beberapa teman yang tersesat. Untung kami dapat kembali ke camp sebelum gelap.
Dua hari berikutnya kami tiba kembali di desa Tinukari. Kami disambut Pak Desa dan Bu Desa dengan senyuman ramah. Malamnya kami makan opor ayam buatan Bu Desa. Beliau sengaja memotong 5 ekor ayam untuk menyambut kami. Tuntas sudah perjalanan kali ini. ms hendrawati
mekongga
Gunung Mekongga merupakan gunung tertinggi di pegunungan Mekongga yang membentang di sisi utara wilayah Kabupaten Kolaka Propinsi Sulawesi Tenggara. Kawasan pegunungan ini merupakan jajaran pegunungan Verbeck yang puncak-puncaknya terdiri dari jenis batuan karst dataran tinggi. dengann puncak tertinggi 2.790 meter dpl[1], gunung ini merupakan gunung tertinggi di Provinsi Sulawesi Tenggara.[2].
Secara geologis wilayah pegunungan ini terbentuk dari atol yang terangkat sekitar ratusan juta tahun yang lalu. Fenomena ini kemudian memberi ruang bagi jenis flora dan fauna yang khas yang kemudian menjadi biota endemic yang hanya terdapat di wilayah ini.
Pegunungan Mekongga, juga ideal untuk kegiatan trekking. Titik awal pendakian adalah dari Dusun Surolako, Desa Rantebaru di Kecamatan Ranteangin yang dapat dicapai dengan kendaraan roda empat sekitar empat jam dari kota Kolaka.
Selama perjalanan ke puncak yang butuh 5-6 hari, para pendaki gunung disuguhi suasana hutan tropis yang jarang dijamah orang, merdunya kicau burung, sampai acara menyeberangi pertemuan Sungai Mosembo dan Sungai Tinokari. Selain itu, mungkin akan berpapasan dengan anoa[3].
Hikayat
Nama Mekongga berasal dari cerita rakyat setempat yang berkisah tentang pertempuran seorang kesatria dan seekor burung elang. Menurut hikayat, suatu masa puncak gunung ini dihuni oleh Kongga, yaitu seekor burung raksasa. Para penduduk sering resah karena sang burung sering membuat onar dan mengganggu kehidupan rakyat. Kemudian tampillah seorang bangsawan gagah berani yang berhasil menewaskan burung raksasa. Sebagai hadiahnya, raja setempat menikahkan putrinya dengan si bangsawan. Dan untuk mengenang jasa besar itu, kawasan tersebut diberi nama Mekongga.[4].
[sunting] Rute pendakian
Pendakian dari pos terakhir pendakian hingga ke puncak Mekongga memakan waktu sekitar 5 hari. Pos terakhir pendakian terdapat di desa Tinukari desa terakhir pendakian yang secara administratif terletak di kecamatan Rante Angin, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara.
Perhentian berikutnya yaitu "camp 1" di ketinggian 480 m dpl. Walaupun disebut camp, tapi tidak ada shelter seperti gunung di Jawa. Semuanya masih serba alami.
"camp 2" terdapat di ketinggian 1.380 m dpl. Dari sisi jalur mulai menanjak dan banyak sekali bekas longsoran. Sepanjang jalan banyak ditemukan air terjun kecil. Vegetasi yang dominan adalah tumbuhan berkayu bekas yang ditumbuhi lumut. Hal ini terjadi karena daerah ini sangat lembab. Kantong Semar dan aneka jenis anggrek bisa ditemukan dengan mudah.
Perhentian berikutnya adalah di "Musero-sero". Dalam keyakinan orang Mekongga, tempat ini diyakini sebagai pusat kerajaan jin untuk daerah Kolaka Utara. Dari Musero-sero perjalanan bertambah berat karena harus memanjat tebing dan tanjakan-tanjakan yang tanpa henti hingga sampai di "Camp 3".
Dari sini bisa langsung menuju puncak Mekongga. Puncak Mekongga sendiri berbentuk kubah yang luas. Di sini terdapat goa-goa dengan stalagmit dan stalagtit yang indah. Satu lagi tantangan bagi para pencinta goa.
Secara geologis wilayah pegunungan ini terbentuk dari atol yang terangkat sekitar ratusan juta tahun yang lalu. Fenomena ini kemudian memberi ruang bagi jenis flora dan fauna yang khas yang kemudian menjadi biota endemic yang hanya terdapat di wilayah ini.
Pegunungan Mekongga, juga ideal untuk kegiatan trekking. Titik awal pendakian adalah dari Dusun Surolako, Desa Rantebaru di Kecamatan Ranteangin yang dapat dicapai dengan kendaraan roda empat sekitar empat jam dari kota Kolaka.
Selama perjalanan ke puncak yang butuh 5-6 hari, para pendaki gunung disuguhi suasana hutan tropis yang jarang dijamah orang, merdunya kicau burung, sampai acara menyeberangi pertemuan Sungai Mosembo dan Sungai Tinokari. Selain itu, mungkin akan berpapasan dengan anoa[3].
Hikayat
Nama Mekongga berasal dari cerita rakyat setempat yang berkisah tentang pertempuran seorang kesatria dan seekor burung elang. Menurut hikayat, suatu masa puncak gunung ini dihuni oleh Kongga, yaitu seekor burung raksasa. Para penduduk sering resah karena sang burung sering membuat onar dan mengganggu kehidupan rakyat. Kemudian tampillah seorang bangsawan gagah berani yang berhasil menewaskan burung raksasa. Sebagai hadiahnya, raja setempat menikahkan putrinya dengan si bangsawan. Dan untuk mengenang jasa besar itu, kawasan tersebut diberi nama Mekongga.[4].
[sunting] Rute pendakian
Pendakian dari pos terakhir pendakian hingga ke puncak Mekongga memakan waktu sekitar 5 hari. Pos terakhir pendakian terdapat di desa Tinukari desa terakhir pendakian yang secara administratif terletak di kecamatan Rante Angin, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara.
Perhentian berikutnya yaitu "camp 1" di ketinggian 480 m dpl. Walaupun disebut camp, tapi tidak ada shelter seperti gunung di Jawa. Semuanya masih serba alami.
"camp 2" terdapat di ketinggian 1.380 m dpl. Dari sisi jalur mulai menanjak dan banyak sekali bekas longsoran. Sepanjang jalan banyak ditemukan air terjun kecil. Vegetasi yang dominan adalah tumbuhan berkayu bekas yang ditumbuhi lumut. Hal ini terjadi karena daerah ini sangat lembab. Kantong Semar dan aneka jenis anggrek bisa ditemukan dengan mudah.
Perhentian berikutnya adalah di "Musero-sero". Dalam keyakinan orang Mekongga, tempat ini diyakini sebagai pusat kerajaan jin untuk daerah Kolaka Utara. Dari Musero-sero perjalanan bertambah berat karena harus memanjat tebing dan tanjakan-tanjakan yang tanpa henti hingga sampai di "Camp 3".
Dari sini bisa langsung menuju puncak Mekongga. Puncak Mekongga sendiri berbentuk kubah yang luas. Di sini terdapat goa-goa dengan stalagmit dan stalagtit yang indah. Satu lagi tantangan bagi para pencinta goa.
Sejarah Buton (Wolio)
Cikal bakal negeri Buton untuk menjadi sebuah Kerajaan pertama kali dirintis oleh kelompok Mia Patamiana (si empat orang) yaitu Sipanjonga, Simalui, Sitamanajo, Sijawangkati yang oleh sumber lisan mereka berasal dari Semenanjung Tanah Melayu pada akhir abad ke – 13.
Mereka mulai membangun perkampungan yang dinamakan Wolio (saat ini berada dalam wilayah Kota Bau-Bau serta membentuk sistem pemerintahan tradisional dengan menetapkan 4 Limbo (Empat Wilayah Kecil) yaitu Gundu-gundu, Barangkatopa, Peropa dan Baluwu yang masing-masing wilayah dipimpin oleh seorang Bonto sehingga lebih dikenal dengan Patalimbona. Keempat orang Bonto tersebut disamping sebagai kepala wilayah juga bertugas sebagai pelaksana dalam mengangkat dan menetapkan seorang Raja. Selain empat Limbo yang disebutkan di atas, di Buton telah berdiri beberapa kerajaan kecil seperti Tobe-tobe, Kamaru, Wabula, Todanga dan Batauga. Maka atas jasa Patalimbona, kerajaan-kerajaan tersebut kemudian bergabung dan membentuk kerajaan baru yaitu kerajaan Buton dan menetapkan Wa Kaa Kaa (seorang wanita bersuamikan Si Batara seorang turunan bangsawan Kerajaan Majapahit) menjadi Raja I pada tahun 1332 setelah mendapat persetujuan dari keempat orang bonto/patalimbona (saat ini hampir sama dengan lembaga legislatif).
Dalam periodisasi Sejarah Buton telah mencatat dua Fase penting yaitu masa Pemerintahan Kerajaan sejak tahun 1332 sampai pertengahan abad ke – 16 dengan diperintah oleh 6 (enam) orang raja diantaranya 2 orang raja perempuan yaitu Wa Kaa Kaa dan Bulawambona. Kedua raja ini merupakan bukti bahwa sejak masa lalu derajat kaum perempuan sudah mendapat tempat yang istimewa dalam masyarakat Buton. Fase kedua adalah masa Pemerintahan Kesultanan sejak masuknya agama Islam di Kerajaan Buton pada tahun 948 Hijriah ( 1542 Masehi ) bersamaan dilantiknya Laki La Ponto sebagai Sultan Buton I dengan Gelar Sultan Murhum Kaimuddin Khalifatul Khamis sampai pada Muhammad Falihi Kaimuddin sebagai Sultan Buton ke – 38 yang berakhir tahun 1960.
[sunting] Bidang Hukum
Dibidang hukum dijalankan sangat tegas dengan tidak membedakan baik aparat pemerintahan maupun masyarakat umum. Hal ini terlihat dari ke 38 orang sultan yang memerintah di Buton , 12 orang menyalahgunakan kekuasaan dan melanggar sumpah jabatan dan satu diantaranya yaitu Sultan ke - VIII Mardan Ali, diadili dan diputuskan untuk dihukum mati dengan cara leher dililit dengan tali sampai meninggal yang dalam bahasa wolio dikenal dengan istilah digogoli . Rolan (bicara) 04:57, 26 November 2008 (UTC)
[sunting] Bidang Perekonomian
Bidang perekonomian dimana Tunggu Weti sebagai penagih pajak di daerah kecil ditingkatkan statusnya menjadi Bonto Ogena disamping sebagai penanggung jawab dalam pengurusan pajak dan keuangan juga mempunyai tugas khusus selaku kepala siolimbona (saat ini hampir sama dengan ketua lembaga legislatif).
[sunting] Bidang Pertahanan
Bidang Pertahanan Keamanan ditetapkannya Sistem Pertahanan Rakyat Semesta dengan falsafah perjuangan yaitu :
“Yinda Yindamo Arata somanamo Karo” (Harta rela dikorbankan demi keselamatan diri)
“Yinda Yindamo Karo somanamo Lipu” (Diri rela dikorbankan demi keselamatan negeri)
“Yinda Yindamo Lipu somanamo Sara” (Negeri rela dikorbankan demi keselamatan pemerintah)
“Yinda Yindamo Sara somanamo Agama” (Pemerintah rela dikorbankan demi keselamatan agama)
Disamping itu juga dibentuk sistem pertahanan berlapis yaitu empat Barata (Wuna, Tiworo, Kulisusu dan Kaledupa), empat matana sorumba (Wabula, Lapandewa, Watumotobe dan Mawasangka) serta empat orang Bhisa Patamiana (pertahanan kebatinan).
Selain bentuk pertahanan tersebut maka oleh pemerintah kesultanan, juga mulai membangun benteng dan kubu–kubu pertahanan dalam rangka melindungi keutuhan masyarakat dan pemerintah dari segala gangguan dan ancaman. Kejayaan masa Kerajaan/Kesultanan Buton (sejak berdiri tahun 1332 dan berakhir tahun 1960) berlangsung ± 600 tahun lamanya telah banyak meninggalkan warisan masa lalu yang sangat gemilang, sampai saat ini masih dapat kita saksikan berupa peninggalan sejarah, budaya dan arkeologi. Wilayah bekas Kesultanan Buton telah berdiri beberapa daerah kabupaten dan kota yaitu : Kabupaten Buton, Kabupaten Muna, Kabupaten Wakatobi, Kabupaten Bombana, Kabupaten Buton Utara, dan Kota Bau-Bau.
Mereka mulai membangun perkampungan yang dinamakan Wolio (saat ini berada dalam wilayah Kota Bau-Bau serta membentuk sistem pemerintahan tradisional dengan menetapkan 4 Limbo (Empat Wilayah Kecil) yaitu Gundu-gundu, Barangkatopa, Peropa dan Baluwu yang masing-masing wilayah dipimpin oleh seorang Bonto sehingga lebih dikenal dengan Patalimbona. Keempat orang Bonto tersebut disamping sebagai kepala wilayah juga bertugas sebagai pelaksana dalam mengangkat dan menetapkan seorang Raja. Selain empat Limbo yang disebutkan di atas, di Buton telah berdiri beberapa kerajaan kecil seperti Tobe-tobe, Kamaru, Wabula, Todanga dan Batauga. Maka atas jasa Patalimbona, kerajaan-kerajaan tersebut kemudian bergabung dan membentuk kerajaan baru yaitu kerajaan Buton dan menetapkan Wa Kaa Kaa (seorang wanita bersuamikan Si Batara seorang turunan bangsawan Kerajaan Majapahit) menjadi Raja I pada tahun 1332 setelah mendapat persetujuan dari keempat orang bonto/patalimbona (saat ini hampir sama dengan lembaga legislatif).
Dalam periodisasi Sejarah Buton telah mencatat dua Fase penting yaitu masa Pemerintahan Kerajaan sejak tahun 1332 sampai pertengahan abad ke – 16 dengan diperintah oleh 6 (enam) orang raja diantaranya 2 orang raja perempuan yaitu Wa Kaa Kaa dan Bulawambona. Kedua raja ini merupakan bukti bahwa sejak masa lalu derajat kaum perempuan sudah mendapat tempat yang istimewa dalam masyarakat Buton. Fase kedua adalah masa Pemerintahan Kesultanan sejak masuknya agama Islam di Kerajaan Buton pada tahun 948 Hijriah ( 1542 Masehi ) bersamaan dilantiknya Laki La Ponto sebagai Sultan Buton I dengan Gelar Sultan Murhum Kaimuddin Khalifatul Khamis sampai pada Muhammad Falihi Kaimuddin sebagai Sultan Buton ke – 38 yang berakhir tahun 1960.
[sunting] Bidang Hukum
Dibidang hukum dijalankan sangat tegas dengan tidak membedakan baik aparat pemerintahan maupun masyarakat umum. Hal ini terlihat dari ke 38 orang sultan yang memerintah di Buton , 12 orang menyalahgunakan kekuasaan dan melanggar sumpah jabatan dan satu diantaranya yaitu Sultan ke - VIII Mardan Ali, diadili dan diputuskan untuk dihukum mati dengan cara leher dililit dengan tali sampai meninggal yang dalam bahasa wolio dikenal dengan istilah digogoli . Rolan (bicara) 04:57, 26 November 2008 (UTC)
[sunting] Bidang Perekonomian
Bidang perekonomian dimana Tunggu Weti sebagai penagih pajak di daerah kecil ditingkatkan statusnya menjadi Bonto Ogena disamping sebagai penanggung jawab dalam pengurusan pajak dan keuangan juga mempunyai tugas khusus selaku kepala siolimbona (saat ini hampir sama dengan ketua lembaga legislatif).
[sunting] Bidang Pertahanan
Bidang Pertahanan Keamanan ditetapkannya Sistem Pertahanan Rakyat Semesta dengan falsafah perjuangan yaitu :
“Yinda Yindamo Arata somanamo Karo” (Harta rela dikorbankan demi keselamatan diri)
“Yinda Yindamo Karo somanamo Lipu” (Diri rela dikorbankan demi keselamatan negeri)
“Yinda Yindamo Lipu somanamo Sara” (Negeri rela dikorbankan demi keselamatan pemerintah)
“Yinda Yindamo Sara somanamo Agama” (Pemerintah rela dikorbankan demi keselamatan agama)
Disamping itu juga dibentuk sistem pertahanan berlapis yaitu empat Barata (Wuna, Tiworo, Kulisusu dan Kaledupa), empat matana sorumba (Wabula, Lapandewa, Watumotobe dan Mawasangka) serta empat orang Bhisa Patamiana (pertahanan kebatinan).
Selain bentuk pertahanan tersebut maka oleh pemerintah kesultanan, juga mulai membangun benteng dan kubu–kubu pertahanan dalam rangka melindungi keutuhan masyarakat dan pemerintah dari segala gangguan dan ancaman. Kejayaan masa Kerajaan/Kesultanan Buton (sejak berdiri tahun 1332 dan berakhir tahun 1960) berlangsung ± 600 tahun lamanya telah banyak meninggalkan warisan masa lalu yang sangat gemilang, sampai saat ini masih dapat kita saksikan berupa peninggalan sejarah, budaya dan arkeologi. Wilayah bekas Kesultanan Buton telah berdiri beberapa daerah kabupaten dan kota yaitu : Kabupaten Buton, Kabupaten Muna, Kabupaten Wakatobi, Kabupaten Bombana, Kabupaten Buton Utara, dan Kota Bau-Bau.
Republik Indonesia
Republik Indonesia adalah sebuah negara kepulauan terbesar di dunia yang terletak di Asia Tenggara. Melintang di katulistiwa antara benua Asia dan Australia serta antara Samudera Pasifik dan Samudera Hindia. Indonesia berbatasan dengan Malaysia di utara pulau Kalimantan, dengan Papua Nugini di timur pulau Papua dan dengan Timor Timur di utara pulau Timor.
Indonesia memiliki 18.000 lebih pulau (sekitar 6000 tidak berpenghuni) yang menyebar sekitar katulistiwa, memberikan cuaca tropis. Pulau terpadat penduduknya adalah pulau Jawa, di mana setengah populasi Indonesia hidup. Indonesia terdiri dari 5 pulau besar, yaitu: Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, dan Irian Jaya.
Lokasi Indonesia juga terletak di lempeng tektonik yang berarti Indonesia sering terkena gempa bumi dan juga menimbulkan tsunami. Indonesia juga banyak memiliki gunung berapi, salah satu yang sangat terkenal adalah gunung Krakatau, terletak antara pulau Sumatra dan Jawa.
Penduduk Indonesia dapat dibagi secara kasar kepada dua kelompok. Di bagian barat Indonesia penduduknya kebanyakan adalah suku Melayu sementara di timur adalah suku Papua, yang mempunyai akar di kepulauan Melanesia. Banyak penduduk Indonesia yang menyatakan dirinya sebagai bagian dari kelompok suku yang lebih spesifik, yang dibagi menurut bahasa dan asal daerah, misalnya Jawa, Sunda atau Batak.
Indonesia memiliki 18.000 lebih pulau (sekitar 6000 tidak berpenghuni) yang menyebar sekitar katulistiwa, memberikan cuaca tropis. Pulau terpadat penduduknya adalah pulau Jawa, di mana setengah populasi Indonesia hidup. Indonesia terdiri dari 5 pulau besar, yaitu: Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, dan Irian Jaya.
Lokasi Indonesia juga terletak di lempeng tektonik yang berarti Indonesia sering terkena gempa bumi dan juga menimbulkan tsunami. Indonesia juga banyak memiliki gunung berapi, salah satu yang sangat terkenal adalah gunung Krakatau, terletak antara pulau Sumatra dan Jawa.
Penduduk Indonesia dapat dibagi secara kasar kepada dua kelompok. Di bagian barat Indonesia penduduknya kebanyakan adalah suku Melayu sementara di timur adalah suku Papua, yang mempunyai akar di kepulauan Melanesia. Banyak penduduk Indonesia yang menyatakan dirinya sebagai bagian dari kelompok suku yang lebih spesifik, yang dibagi menurut bahasa dan asal daerah, misalnya Jawa, Sunda atau Batak.
Langganan:
Postingan (Atom)
